99 Persen Yakin Mossad Otaki Pembunuhan Al-Mabhouh
Misteri pembunuhan Komandan Militer Hamas Mahmoud al-Mabhouh di Dubai memasuki babak baru. Kemarin (18/2) kepolisian Dubai membantah keras pernyataan Inggris, Republik Irlandia, dan Jerman bahwa paspor yang dipakai sebelas tersangka pembunuh adalah palsu. Dubai menegaskan bahwa paspor mereka asli. Itu sebabnya, para tersangka diizinkan masuk Dubai, sampai akhirnya melakukan pembunuhan. "Kepolisian Dubai memiliki bukti-bukti lain, di samping rekaman (CCTV) dan foto para tersangka yang dirilis awal pekan ini," ujar Kepala Polisi Dubai Dahi Khalfan, seperti dikutip surat kabar setempat, Al-Bayan. Dalam waktu dekat, lanjut dia, pihaknya akan mengungkap bukti-bukti tersebut.
Dia yakin publikasi berikutnya bakal lebih mengejutkan dan membuat mereka yang terlibat tidak bisa mengelak lagi. Menurut Khalfan, jika paspor-paspor itu palsu, para petugas imigrasi di bandara pasti tahu dan tidak mengizinkan mereka memasuki Dubai. Sebab, para petugas imigrasi mendapatkan pelatihan langsung dari pakar keamanan Eropa. "Pelatihan itu membuat petugas imigrasi kami mahir mendeteksi paspor palsu," tegasnya. Hingga kemarin, kepolisian Dubai masih memburu ke-11 tersangka yang -berdasar paspor mereka- berasal dari Eropa. Enam orang tercatat sebagai warga Inggris dan tiga lainnya dari Irlandia. Kemudian, dua sisanya masing-masing dari Jerman dan Prancis. Satu di antara sebelas tersangka itu perempuan. Khalfan mendeskripsikan para pembunuh Mabhouh sebagai sekumpulan orang bodoh. "Kamera keamanan merekam detik demi detik gerakan mereka," ujarnya seperti dilansir Agence France-Presse.
Para tersangka mendarat di Dubai pada 19 Januari, sehari setelah komandan militer Hamas yang tinggal di Damaskus itu tiba. Para tersangka yang diduga agen Mossad itu lantas menyamar sebagai turis. Mereka meninggalkan negeri yang dipimpin Emir Mohammed bin Rashid Al Maktoum itu pada 20 Januari, di hari yang sama saat Mabhouh ditemukan tewas.
Sementara itu, dugaan bahwa Mossad berada di balik skenario pembunuhan militan berusia 50 tahun tersebut semakin kuat. Kepolisian Dubai yakin 99 persen Mossad mendalangi pembunuhan menggemparkan tersebut. Sejumlah pejabat senior keamanan Israel yang diwawancarai Associated Press Rabu lalu (17/2) juga yakin ada campur tangan Mossad dalam kasus itu. "Motif yang digunakan para pelaku dan pencatutan nama warga sipil Israel dalam kasus itu menunjukkan ciri khas Mossad," ujar salah seorang pejabat yang merahasiakan identitasnya tersebut.
Dia yakin, intelijen Israel mendalangi pembunuhan Mabhouh. Mabhouh diincar karena selama ini dialah yang menyuplai persenjataan canggih bagi kelompok-kelompok militan di Jalur Gaza. Apalagi, Mossad pernah meluncurkan misi senada saat Benjamin Netanyahu menjabat perdana menteri pada periode 1996-1999. Saat itu agen rahasia Mossad berusaha membunuh Pemimpin Biro Politik Hamas di Damaskus, Khaled Meshaal. Namun, aksi 25 September 1997 itu gagal.
Tak lama setelah itu, dua agen rahasia Mossad ditangkap karena menyuntikkan racun ke tubuh Meshaal. Ketika itu keduanya menyamar sebagai wisatawan Kanada. Israel pun lantas dipaksa mengirimkan penangkal racun demi menyelamatkan tokoh 54 tahun tersebut.
Sementara itu, pemerintahan Netanyahu sendiri memilih cuci tangan. "Israel tidak pernah merespons, mengonfirmasikan, atau membantah. Saya tidak tahu mengapa dugaan kini mengarah pada Israel atau Mossad yang menggunakan paspor-paspor itu," papar Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman.
| < Prev | Next > |
|---|
Berita ringan |











