Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an

Penilaian User: / 2
TerburukTerbaik 

Sumber : GATRA, No. 34 tahun XIV 3 - 9 Juli 2008  Resentor : Herry Mohammad

Ketika seseorang mengalami kesulitan memahami makna ayat-ayat Al-Quran, kemana mereka mencari tahu? Adalah Ibnu Taimiyyah memberi arahan, ”Mengetahui sebab turunnya ayat akan membantu memahami kandungan ayat tersebut ”. Al-Qur’an adalah kitab suci sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, agar selamat di akhirat, kelak.


Tapi, ayat-ayat Al-Qur’an ada yang muhkam, adapula yang mutasyabihat. Muhkam artinya kalam, yang jelas maknanya, dan tidak memunculkan ketidakjelasan. Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 255 dan Ali Imran ayat 2, Allah berfirman, ”Allah tiada Ilah melainkan Dia Yang Hidup”. Adapun yang mutasyabihat adalah ayat-ayat yang masih belum jelas maknanya, dan memerlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengungkap atau sampai pada makna yang dimaksud. Adalah Prof. Wahbah Zuhaili, dalam Ensiklopedia Al-Qur’an, menjelaskan bahwa al-mutasyabihat ada tiga macam.
Pertama, apa yang semua orang tidak dapat mencapainya dan mengetahui serta menguaknya, seperti pengetahuan tentang Zat Allah Swt, hakikat sifat-sifat-Nya dan selainnya yang terdiri dari hal-hal gaib yang hanya Allah Swt -lah yang mengetahuinya sesuai dengan firman-Nya , ” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” ( Al-An’am : 59 ).


Kedua, Apa yang mungkin bagi seseorang mengetahuinya melalui kajian dan pembahasan terlebih dahulu, seperti firman Allah Swt, ” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.” ( Al–Baqarah : 183 ). Kata saum ( berpuasa ) berarti al-imsak (  menahan ), disitu tidak ada batasan tertentunya yang jelas. Hal ini dapat diketahui maksudnya setelah merujuk nas-nas syara’yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan puasa adalah menahan diri dari perkara-perkara yang dapat membatalkan puasa dari mulai terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari.
Ketiga, apa yang tidak mungkin diperoleh pengetahuannya kecuali bagi orang-orang yang pintar, yaitu para ulama dan mujahid pilihan saja.


Dengan memahami ayat-ayat muhkam dan mutasyabihat, seorang muslim akan tahu rambu-rambu ketika ia menafsirkannya.
Mengerti yang muhkam dan mutasyabihat adalah modal awal untuk memahami isi Al-Qur’an, sedangkan asbabun nuzul ( sebab diturunkannya ) ayat diperlukan untuk mengetahui konteksnya. Dalam buku ini Jalaluddin As-Suyuthi, berkesimpulan,” Asbabun nuzul merupakan peristiwa yang terjadi ketika turunnya suatu ayat.” ( hal 14 ). Disini As-Suyuthi mengoreksi para mufasir yang mengatakan bahwa surah Al-Fill turun berkaitan dengan kedatangan tentara Habasyah ( ethiopia ) yang hendak menyerang Ka’bah.


Kisah tentara Habasyah yang dipimpin oleh Abrahah dengan pasukan gajahnya yang terkenal itu, juga kisah Nabi Nuh, kaum Aad, kaum Tsamud, pembangunan Ka’bah, dan yang lainnya adalah informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Kisah-kisah tersebut adalah pelajaran bagi umat Nabi Muhammad, agar mampu menarik hikmah  di balik peristiwa tersebut.


Dengan mengetahui ayat-ayat Muhkam, mutasyahibat, dan Asbabun nuzul-nya, seseorang akan mampu memahami maknanya secara proposional. Dengan demikian, akhlaknya pun terjaga, dalam arti tidak memberi tafsir dengan mengikuti hawa nafsunya.


Tapi, buku ini pun bak ” tiada gading yang tak retak ”. Mukadimah yang dibuat penulisnya cukup memberi arahan tentang manfaat mengetahui asbabun nuzul suatu ayat. Beberapa kutipan dari Ibnu Taimiyyah dan Al-Wahidi terulang pada kata ” Pengantar Penerbit ” yang mestinya tidak perlu terjadi. Syukurlah, kelemahan tersebut tidak mengurangi bobot buku secara keseluruhan. (www.gemainsani.co.id)

PENGUNJUNG

Ada 10 tamu online