Form Pengguna



Akal vs Nafsu

Penilaian User: / 1
TerburukTerbaik 

Mungkin Anda bertanya, mengapa judul di atas Akal versus Nafsu?. Memang perlu kiranya kita ilustrasikan bahwa ini merupakan sebuah pertandingan “perasaan” yang disalah satu sudutnya adalah jawara kita yang bernama Akal dan di sudut lain adalah musuh besarnya yaitu Nafsu.
Sebelum memasuki babak pertama pertandingan Akal versus Nafsu ini, perlu kita kenalkan seorang wasit senior yang sudah malang melintang mewasiti pertandingan “perasaan” mulai jamannya Plato sampai jamannya Markoplo, dari jamannya Socrates sampai jamannya Julia perez. Dialah “hati” yang selalu menjadi wasit dari pertandingan ini.
Ronde pertama akan dimulai, wasit “hati” pun memperkenalkan para petarung. Di sudut atas, adalah Akal, seorang petarung kawakan yang terkenal dengan pukulan logikanya yang mampu membuat orang pusing tujuh keliling dan terpontang panting. Di sudut bawah, adalah Nafsu, seorang petarung baru namun akhir-akhir ini begitu terkenal dengan maraknya kasus-kasus pornografi dan aksi-aksi mesum dengan lakon para Pelajar, Mahasiswa, Guru, Anggota Dewan, Pejabat, legislatif, eksekutif, Tentara, Tukang Becak, pengangguran, bahkan Orang Gila pun jadi lakonnya. Pukulan Nafsu begitu mematikan, bila sekali kita dijotosnya dijamin ketagihan.Teng,teng,teng,teng,teng,teng, pertandingan dimulai………..
Babak ini dimulai dari kisah seorang sufi wanita bernama Rabi’ah Al-Adawiyah yang suaminya telah meninggal dunia. Maka datanglah Hasan Al-Bashry bersama kawan-kawannya serta minta izin kepada Rabi’ah untuk masuk di rumahnya. Rabia’ah pun mengizinkannya masuk dan dia menutupkan hijab atau aling-aling lalu Rabi’ahpun duduk dibalik hijab tersebut. Berkatalah Hasan kepada Rabi’ah; “sesungguhnya suamimu telah meninggal dunia, maka kau haruslah bersuami pula”.
Rabi’ah menjawab:“baiklah, siapakah diantaramu yang paling alim, maka saya hambakan diri ini sebagai isterinya”.
Mereka menjawab:“yang paling alim adalah Hasan Al-Bashry”
Maka Rabi’ah memberikan pertanyaan kapada Hasan Al-Bashry: “Hai Hasan, jawablah; berapa bagiankah Allah menciptakan Akal?”.
Hasan menjawab: “sepuluh bagian, yang sembilan bagian untuk para laki-laki dan yang satu bagian untuk para wanita”.
Rabi’ah kembali bertanya: “Hai Hasan, berapa bagiankah Allah menciptakan Nafsu?”.
Hasan Menjawab: “sepuluh bagian, yang sembilan bagian untuk para wanita dan yang satu bagian untuk para laki-laki”.
Rabi’ah Al-Adawiyah selanjutnya berkata: ”Wahai Hasan Al-Bashry, Saya saja yang seorang wanita mampu menjaga Sembilan bagian Nafsu hanya dengan satu bagian Akal, sedangkan mengapa Engkau tidak mampu menjaga dan menahan satu bagian Nafsumu dengan Sembilan bagian Akal?”. Serta merta Hasan Al-Bashry pun keluar dari rumah Rabi’ah dan menangis tersedu-sedu.
Begitulah bila wasit memainkan peranannya dengan baik serta memberi motivasi pada Akal sehingga mampu mengalahkan Nafsu syahwat dan mulialah hidup manusia yang memenangkan pertandingan melawan Nafsunya.
Babak selanjutnya  dari pertandingan “perasaan” tentang  keutamaan penciptaan manusia. Manusia itu wujudnya disusun atau diciptakan antara malaikat dan binatang. Malaikat mempunyai akal tetapi tidak mempunyai nafsu syahwat, dan binatang mempunyai nafsu syahwat tapi tidak mempunyai akal.
Maka manusia dengan akalnya mempunyai bagian tingkah laku seperti pada malaikat, dan dengan tabiatnya manusia ( Nafsu Syahwat) mempunyai tingkah laku layaknya binatang. Bila tabiat nafsu syahwatnya itu mengalahkan akalnya. Maka ia lebih hina dari binatang. Allah berfirman:”mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (Al-A’raaf:179).
Bila Nafsu menang pada pertandingan “perasaan” ini, maka manusia lebih hina dari pada binatang. Namun bila Akal yang memenangi pertandingan, maka manusia akan lebih mulia dari malaikat sekalipun.
Coba kita cermati perihal kehinaan dan kemuliaan dari pertandingan Akal versus Nafsu melalui anatomi tubuh manusia itu sendiri. Akal berada di kepala yang dijunjung tinggi dan berada ditempat tertinggi, hati sebagai wasit berada di dada dan di tengah-tengah, dan Nafsu berada di perut dan di bawah perut. Dua keutamaan Manusia (Akal dan Hati) yang Allah SWT berikan sebagai pembeda antara makhluk-makhluk lainnya, bila dua hal tersebut dikalahkan oleh nafsu yang berada di bawah, apalagi yang harus dikatakan selain “Betapa hina manusia yang terperdaya akal dan hatinya oleh nafsu syahwat”. Naudzubillah.
Siapakah yang menang pada pertandingan kali ini…..? tanyalah kepada wasit (baca;Hati) anda, apakah diri anda cenderung kepada Nafsu atau anda lebih menggunakan akal dan hati untuk mengalahkan nafsu ini?. Selamat  bertafakkur dan bertaqorrub kepada dzat yang maha hidup. Do’a kita “yaa muqollibal quluub, qollib quluubanaa ‘ala tho’atika yaa Allah”. Wallahu A’lam Bishsowab.
Oleh: NN

 

Terdahulu

Berita ringan

Statistik
054926
Hari IniHari Ini50
KemarinKemarin84
Minggu IniMinggu Ini134
Bulan KemarinBulan Kemarin2411
TotalTotal54926
Pengunjung
Ada 8 tamu online
Media Komunikasi