Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ''Ketika kami bersama Rasul, Rasul berkata kepada seseorang yang mengaku Islam, “Ia termasuk dari golongan ahli neraka.'' Tatkala perang terjadi, lelaki tersebut berperang dengan gagah berani sehingga badannya penuh luka. Kemudian Rasul ditanya, ''Wahai Rasulullah, engkau berkata ia dari golongan ahli neraka, padahal ia telah berperang sehingga ia mati.'' maka Rasulullah SAW bersabda, ''Ia dari golongan ahli neraka.'' lalu Rasul melanjutkan, ''Sesungguhnya ia tidak mati, akan tetapi ia merasa sakit dengan luka yang banyak pada tubuhnya, tatkala malam datang ia tidak bersabar atas luka yang menimpanya, lalu ia membunuh dirinya sendiri.''(HR. Bukhari)
Hadis di atas menceritakan tentang salah satu fenomena bunuh diri yang terjadi akibat dari ketidaksabaran atas cobaan yang Allah berikan. Bunuh diri dianggap sebagai solusi atas berbagai masalah yang dihadapi. Dengan anggapan, melalui bunuh diri seseorang akan terlepas dari segala kesempitan yang melanda.
Tentu saja itu anggapan yang salah. Allah SWT memberikan sebuah nikmat yang sangat besar yaitu nyawa, agar manusia dapat hidup dan mengumpulkan bekal dengan sebanyak-banyaknya untuk menghadapi sebuah kehidupan yang abdi, yaitu akhirat. Orang yang bunuh diri berarti telah mengabaikan nikmat hidup yang allah berikan sehingga ia berhak atas siksaan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, ''Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan menggunakan pisau (atau yang sejenisnya) maka pisau tersebut akan tertancap pada perutnya di neraka, ia kekal di dalamnya. Dan barang siapa yang meminum racun hingga mati maka kelak di neraka ia akan melakukan hal serupa, ia kekal di dalamnya. Dan barang siapa yang lompat dari gedung yang tinggi hingga mati maka ia akan dijatuhkan ke dalam neraka, ia kekal di dalamnya.'' (HR. Muslim)