Harmonika Perjuangan
Ketika bel berdentang pukul 07.45, itu pertanda dimulainya segala aktifitas belajar mengajar di kelas di mulai. Para Santri segera bergegas berangkat ke kelas masing-masing, dan para Ustad dan Ustdzahpun siap mengajarkan ilmunya disertai dengan I’dad yang lengkap. Setelah mengisi Jurnal mengajar, para guru inipun terlebih dahulu harus mentabtiskan atau mengoreksikan I’dadnya kepada Guru Senior yang di tunjuk oleh Kulliyatul Mu’allimin/mat Al-Islamiyah (KMI). Inilah letak sisi kesiapan, kelengkapan, dan kedisiplinan para guru akan diketahui. Kullu Syai’in Bil-I’dad…itulah yang selalu ditekankan oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Arrisalah ini. Semua ini dimulai dari niat yang agung, hanya untuk mencari Ridlo Illahi. Sebuah perjuangan yang sangat mulia. Tetapi kesuksesan mengajar tidak hanya cukup dengan niat yang tulus saja, proses pelaksanaan dan juga respon santri sangat menentukan tercapainya kesuksesan pembelajaran atau ta’lim.
Mari kita cermati fenomena sukses tidaknya suatu proses pembelajaran ini (yang kita biasa menyebutnya Ta’lim) antara Mu’allim (Guru) dan Muta’alim (santri). Faktor niat sangatlah urgen untuk mengawali segala sesuatu. Niat yang ditujukan hanya mengharap ridlo Allah akan menelurkan generasi-generasi Islam yang beriman dan bertaqwa, tangguh menghadapi hidup. Tetapi segala yang dipersiapkan tidaklah semudah yang dibayangkan. Betapa niat itu haruslah dijaga tidak hanya sebelum pembelajaran di mulai, tapi pada saat proses pelaksanaannya dan juga keikhlasan setelah semua proses selesai. Qobla-al Amal, “inda-al Amal, wa Ba’da-al Amal.
Ada banyak kendala yang mungkin saja terjadi ditengah-tengah pelaksanaan pembelajaran. Bisa saja hal itu datang dari santri yang diajar waktu itu. Tidak disangka seorang santri yang kelihatannya memperhatikan pelajaran, lama kelamaan menunduk dan kemudian tidur pulas di kelas. Betapa hal ini sangat menyesakkan hati para guru, dan memicu kemarahannya. Dalam pikirannya, sangat tidak sopan sekali santri ini. Hatinyapun menggerutu,”Sudah capek-capek I’dad sampai larut malam, malah dicuekin, ditinggal tidur lagi ”, begitulah kira-kira. Padahal guru tersebut sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Sudah berapa kamus yang telah dibukanya, dan sudah berapa orang yang dia tanya dan diajak diskusi tentang materi baru yang akan diajarkannya hari ini. Dia harus juga berdisiplin waktu saat masuk kelas, dan jangan sampai dia terlambat tadi. Tentu saja apa yang dilakukannya merupakan atsar dari kedisiplinan pribadinya yang telah terbentuk sedemikian rupa sebelumnya. Subhanallah…
Tapi sebagai guru yang kreatif dan optimis, tidak hanya sampai situ saja titik kesabaranya habis. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi terus menerus. Dia akan berusaha menjadikan santrinya aktif dan tertarik dengan materi pelajaran yang dia sampaikan. Miliu yang dia ciptakan dan segala kekreatifan guru ini mengemas materi pelajaran, menjadikan para santri bersemangat dan tanpa mereka sadari, mereka telah disibukkan dengan membuka kamus. Dan belajar dengan guru yang satu ini menjadi berkesan dan tidak membosankan. Begitulah. semua yang ditemui oleh guru selama proses pembelajaran merupakan sebuah ujian ketulusan niat yang dibangun dari awal tadi. Ide-ide yang dibangun dan muncul saat mengajar mungkin saja diilhamkan oleh Allah, hadir dan timbul karena ketulusan itu.
Setelah ta’lim selesai, hati yang ikhlaspun akan terasa lega dan ridlo atas apa yang telah diberikannya kepada santri-santrinya…Yang memiliki hati adalah Allah. Maka yang menjadikan santri mengerti ataupun pandai hanyalah Allah Swt. Sesuatu yang kita ikhtiarkan haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan semaksimal mungkin. Barulah setelah itu kita menyerahkan hasilnya kepada Sang Pemilik hati dan Penggerak jiwa santri-santrinya, menuju penerapan ilmu dalam amalan nyata yang sholih dari apa yang telah dicurahkannya. Dan yang perlu kita sadari bahwa mendidik dan mengajar bukan hanya sebuah transfer ilmu tetapi juga sebuah transfer nilai, baik itu nilai-nilai ibadah, nilai akhlak dan keilmuan. Dan semua itu bisa juga terlahir dan terinspirasi oleh santri lewat nilai-nilai yang diterapkan oleh gurunya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi guru hendaknya menjadi uswah yang baik bagi para santri dalam setiap langkahnya.
Bolehlah kita ibaratkan seorang pendidik dengan seperti halnya seorang petani yang menanam. Dia berharap tanaman yang ditanamnya tumbuh besar dan menghasilkan buah yang besar pula. Dia berikhtiar penuh mengolah sawahnya, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Hasil panennya diharap dengan sabar sehingga bisa dinikmati semua orang disekitarnya dan juga anak cucu yang menjadi tanggungannya. Bila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka dia akan meneliti kembali apa yang terjadi pada tanamannya dan apa yang tidak beres dengan pekerjaaanya.
Inilah perjuangan Ustad dan Ustadzah yang ada di pondok ini, tujuan mereka adalah tujuan jangka panjang dunia tetapi juga jangka panjang sampai ke negeri akhirat. Tujuan jangka panjang dunia adalah sesuai dengan program pondok modern Arrisalah ini, yakni Kulliyatul Mu’allimin wal Mu’allimat. Program Kulliyatul Mu’allimin wal Mu’allimat pada akhirnya diharapkan bisa mencetak generasi penerus perjuangan Rasulullah, yakni Guru dan pendidik masa depan, yang sholih, yang mengajarkan keilmuan baik agama maupun umum. Para guru inipun tidak rela bila anak cucu mereka nantinya dididik oleh generasi yang lemah sepeninggalnya.
Sedangkan tujuan jangka panjang di akhirat tentu adalah sebuah amal jariyah yang tiada putus-putusnya dari ilmu yang telah diajarkan kepada para santri. Ini akan menjadi sebuah simpanan yang kekal tercatat dan mengalir pahalanya selama ilmunya bermanfaat. Tetapi seandainya hasil daripada didikannya itu tidak seperti yang diharapkan, semua adalah aturan Allah yang kita tidak tahu hikmah apa dibalik ketidaksuksesan pembelajaran kita. Buah yang dihasilkan oleh petanipun tidak semuanya baik, ada yang tergores, ada yang kecil dan ada yang besar.
Setelah proses pembelajaran, evaluasi harus dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang perlu ada penambahan dan penekanan. Evaluasi inipun tidak hanya berlaku bagi para santri, tetapi juga bagi para guru agar terjadi sebuah perbaikan bagi semuanya. Evaluasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan setiap dua minggu sekali setiap Kamis di lingkup ma’had Arrisalah ini dipimpin oleh Pimpinan Pondok, Drs. KH. Muhammad Ma’sum Yusuf. Pertemuan ini menjadi sarana evaluasi dan membangun kembali semangat perjuangan yang kadang timbul tenggelam, pasang dan surut di tengah riak kesibukan pribadi masing-masing guru. Di forum ini akan tergugah semangat baru untuk melanjutkan perjuangan, dan melahirkan kembali cita-cita masa depan pondok yang amat tinggi, I’laan Likalimatillah. Tidak hanya itu saja, disini akan tercipta suasana kebersamaan dalam perjuangan , bahwa kita adalah terikat satu ukhuwah yang harus saling menguatkan satu sama lain. Dengan harapan semoga keridloan Allah selalu melingkupi setiap langkah yang dilakukan. Amin…(Ustazdah Tri Murnyanti. S.Pd.I)
| < Prev |
|---|
Berita ringan |










