Kita (yang menjalankan ibadah puasa atau tidak) sama-sama merayakan sebuah momen yang sangat ditunggu-tunggu yaitu hari yang disebtu dengan Hari Kemenangan atau lebih terkenal dengan Hari Raya Idul Fitri. Pada hari itu, berarti kita telah kehilangan bulan Ramadhan, bulan yang kita yakini sebagai bulan maghfiroh, rohmah, dan ‘itqun min an-naari (pembebasan dari api neraka). Selain itu, kita juga meyakini bahwa di antara malam-malam bulan Ramadhan, terdapat suatu malam yaitu malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (al-Qadr: 3-4, al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama). Untuk mendapatkan itu semua, semenjak awal hari Ramadhan, kita menghiasi hari-hari kita dengan pengabdian dan penghambaan total kepada Allah. Kita menghiasi malam kita dengan sholat Isya’ berjamaah dan sholat taraweh. Kita pun tidak mau kehilangan nilai lebih sholat Shubuh berjamaah dan dilanjutkan dengan kuliah Shubuh. Dalam kehidupan keseharian, buruk sangka, mencari-cari kekurangan orang lain lalu membicarakan kekurangan tersebut juga nyaris tak pernah kita lakukan. Apabila ada yang melakukan, pasti ada yang mengingatkan. “Jangan berburuk sangka. Jangan mencari-cari kekurangan orang lain. Jangan membicarakan orang lain. Kita berpuasa”. Acara pertelevisian kita pun juga berpuasa. Mulai pagi hingga menjelang pagi (waktu sahur), acara yang mengobral bibir, betis dan (maaf) buah dada perempuan berkurang walaupun masih ada beberapa penampilan para selebriti sangat berpotensi mengganggu mentalitas orang yang puasa. Para ABG kita yang kalau di luar bulan Puasa sangat akrab dengan penampilan dan gaya berpakaian yang sangat transparan hingga ke lekuk bagian tubuh yang paling privacy, pada bulan Ramadhan, mereka akrab dengan pakaian penutup aurat walaupun masih sangat kurang.
Nah, bulan yang demikian agung itu telah kita tinggalkan lalu kita pun menyambut Hari Kemenangan. Bulan yang memberikan benteng kepada kita telah pergi dan akan kembali satu tahun kemudian. Dan sekarang, kita memasuki Bulan Kemenangan. Lalu, pertanyaannya adalah, adakah sisa-sisa nilai-nilai agung Ramadhan yang membekas dalam kehidupan kita selanjutnya? Fenomena menarik yang dapat kita lihat dan sering terjadi dalam masyarakat kita adalah bahwa Hari Kemenangan itu identik dengan sebuah hari yang harus serba baru dan menjadi ajang, barometer dan standard ukuran keberhasilan kerja dan bisnis kita. Di hari itu, seakan-akan kita disibukkan dengan aksesoris, gaya serta penampilan mulai dari gaya berpakaian, style rambut, bahkan kendaraan. Kita disibukkan dengan gegap gempitanya materi yang kita raih. Ini harus baru, kan Lebaran. Itu harus baru, kan Lebaran.
Dari sinilah, kita perlu berhenti sebentar. Berpikir. Merenung. Khawatir. Jangan-jangan, nilai-nilai agung Ramadhan itu hilang bersama dengan kepergiannya dan berarti kita tidak mendapatkan apa-apa. Kita hanya mendapatkan rasa lapar dan haus. Kita hanya mendapatkan rasa bosan dan jenuh menjalani kehidupan dengan tanpa makan, minum dan dengan larangan-larangan lainnya selama berpuasa. Kita hanya mendapatkan rasa ngantuk yang tak tertahankan ketika para muballigh menyampaikan kuliah Shubuh.
Bulan Ramadhan telah mendidik kita selama satu bulan penuh dengan berbagai macam pendidikan. Kita berdoa, semoga pendidikan yang kita dapatkan dalam bulan Ramadhan tersebut tidak hanya sebatas pada teori dan retorika para muballigh yang kita dengarkan dalam setiap kesempatan pada bulan Ramadhan akan tetapi memang pendidikan Ramadhan itu sudah menjadi darah yang berjalan di dalam tubuh kita di dalam dan di luar Ramadhan. Kalau kita di bulan Ramadhan tidak ngomongin tetangga, semoga Allah SWT terus memberikan petunjuk kepada lisan untuk tetapi tidak ngegunjingin tetangga di luar Ramadhan. Kalau kita di bulan Ramadhan sayang kepada para fakir dan kaum dhu’afa’, semoga Allah SWT masih berkenan menggerakkan hati dan tangan kita untuk mengulurkan bantuan untuk mereka di luar Ramadhan.