Liputan Kecil Ponorogo
Sebuah Kajian Kritis
Ponorogo – Di penghujung tahun 2009, cuaca di hampir sebagian besar wilayah Ponorogo berawan, walaupun intensitas turunnya hujan belum begitu sering bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hampir satu minggu terakhir menjelang pergantian tahun, Ponorogo secara umum diselimuti oleh mendung dan rintik-rintik hujan. Langit sering mendung. Matahari pun sering redup meski tidak selalu diiringi dengan turunnya hujan.
Nampaknya, masyarakat Ponorogo yang sebagian masyarakatnya bermata pencaharian dengan bercocok tanam, dengan tibanya musim hujan meski belum begitu sering, lebih disibukkan oleh kegiatan mereka mengolah sawah dan ladang daripada membuat persiapan menjelang pergantian tahun. Hal ini juga terjadi pada elemen masyarakat yang lainnya. Dua hari menjelang pergantian tahun, pada pedagang hampir di seluruh pasar kota Ponorogo tidak ada kegiatan menonjol yang sengaja dipersiapkan untuk menyambut pergantian tahun. Para pedagang di seluruh penjuru kota Ponorogo mulai dari pedagang Pasar Songgolangit, Pasar Buah Jalan Pahlawan dan Pasar Buah Jalan Gajah Mada. Aktifitas swalayan-swalayan besar pun juga tidak menunjukkan persiapan yang khusus untuk menyambut pergantian. Ada sebagian swalayan yang hanya memampang spanduk memberikan ucapan Selamat Tahun Baru kepada para pengunjung swalayan. Adapun para pegawai nampaknya agak menyibukkan diri dan mempunyai agenda yang lebih khusus dengan adanya libur selama long weekend yang akan dimulai dari hari Jum’at, 1 Januari 2010 hingga Ahad, 3 Januari 2010. Satu fenomena baru yang semakin tahun semakin menggejala dan sangat terasa kemunculannya dalam pola pikir masyarakat Ponorogo adalah bahwa tepat pada jam 24.00 menuju pergantian tahun, maka tepat pada saat itu juga sebagian besar masyarakat meniup terompet sambil berjingkrak. Sebagian besar remaja mengelilingi aloon-aloon kota Ponorogo sambil menarik gas sepeda motor dengan sangat keras. Tepat pada pergantian tahun baru, terompet ditiup sekeras-kerasnya. Seakan-seakan bahwa sebuah pergantian waktu yang betul-betul baru yang menjanjikan sesuatu yang baru. Maka, kedatangannya layak disambut dengan gegap gempita dan dengan suasana yang betul-betul bisa mengungkapkan bahwa tahun baru yang akan datang adalah tahun harapan yang akan membawa sejuta harapan dan sejuta impian.
Nampaknya, inilah yang sedang melanda masyarakat Ponorogo. Mereka tidak ingin ketinggalan dengan masyarakat di berbagai belahan bumi. Cape Town, Johansberg, Jakarta, Manila, Kualalumpur, Hong Kong, Taipei, Tokyo, Moskow, Washington, Canberra, Wellington dan belahan bumi lainnya. Masyarakat Ponorogo sudah mulai meleburkan jati diri mereka ke dalam lintasan inter budaya. Lalu, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimanakah budaya ini bisa membangkitkan semangat dan daya juang masyarakat Ponorogo menuju hidup dan kehidupan yang lebih baik? Budaya adalah suatu tindakan yang sengaja diciptakan yang dijadikan sebagai tanda tertentu bagi para penciptanya dan ini yang disebut budaya lokal dalam masyarakat. Maka, setiap masyarakat di belahan bumi manapun mempunyai budaya lokal yang menunjukkan karakteristik masyarakat tersebut. Lalu, apakah perayaan dan penyambutan pergantian dengan gaya yang demikian merupakan budaya dan tradisi lokal Ponorogo yang terkenal dengan Kota Santri? Wallohu a’lamu bisshowab.
| < Prev | Next > |
|---|
Berita ringan |











