Memahami Akar Terorisme
Bom Solo menyebabkan isu terorisme ramai dibicarakan kembali. Sebelumnya isu ini pernah menjadi berita hangat pada tahun 2001 saat dua pesawat penumpang komersial menabrak gedung menara kembar Amerika Serikat (World Trade Center). Lalu, muncul banyak teori yang membahas terorisme, terutama tujuan teror. Pada prinsipnya studi-studi yang ada sepakat terhadap satu hal, bahwa terorisme adalah fenomena luar biasa.
Kekuatan utama gerakan terorisme bukan terletak pada senjata atau kemampuan anggotanya dalam menggunakan senjata, bukan pula terletak pada jumlahnya serta jaringannya yang memiliki sayap yang luas, juga bukan pada kekuatan finansial yang dimilikinya, tetapi pada ”keyakinan”-nya. Mengapa? Dengan keyakinan itu seorang pelaku tindakan terror akan melakukan apa saja, bahkan akan mengorbankan apa saja untuk hal yang diyakini. Para peneliti, pakar keamanan, pejabat negara, mengolah dan mengidentifikasi tentang bentuk keyakinan yang dapat memicu seseorant untuk berani melakukan tindakan terror dengan berbagai macam resiko bahkan dengan kehilangan nyawa sekalipun.
Apa pun nama atau sebutannya, yang jelas bahwa keyakinan itu hanya akan muncul jika didasarkan pada ideologi yang tertanam kuat. Kaum teroris sebenarnya sudah menjadi mayat meskipun mereka belum mati. Pertanyaannya adalah apakah ideologi itu yang membentuk kesadaran atau sebaliknya? Jika ideologi itu yang membentuk kesadaran, jelas bahwa gerakan terorisme lahir dari ideologi tertentu. Sedangkan jika ideologi itu dibentuk oleh kesadaran, gerakan terorisme telah melahirkan ideologi tertentu. Pertanyaan lanjutannya, di antara dua hal ini, model manakah yang menjadi pilihan organisasi teroris? Padahal akan mustahil berbicara tentang keyakinan tanpa membicarakan ideologi.
Ideologi, adalah hal yang sebaiknya tidak dikesampingkan oleh negara, apalagi digunakan secara sembarang atau berdasar kepentingan elite politik. Alasannya, karena ideologi itu bisa menimbulkan ketegangan sosial dan sebaliknya. Mengingat ideologi memiliki fungsi positif dan negatif, negara harus memilih peran mana yang akan dilakukan. Muncul pertanyaan: jika benar ideologi negara dapat meredakan ketegangan sosial, bisakah dikatakan bahwa gerakan terorisme itu ada karena kegagalan negara memanfaatkan peran ideologi dan mengelola ideologi secara maksimal. Kemiskinan, kebodohan, kesehatan, dan ketidakteraturan sosial adalah indikasi tidak adanya tanggung jawab ideologis negara atas masalah sosial. Di mata para ilmuwan yang melihat persoalan terorisme, faktor terorisme diposisikan sebagai sebab dan bukan akibat sehingga ada siklus sosial yang sebenarnya mempunyai peran dalam memproduksi kekerasan global yang tidak terungkap. Ketika terorisme dicap hanya sebagai gerakan teror dan dipahami dengan logika keamanan semata, makna terorisme telah direduksi. Padahal, aneka upaya yang keliru untuk memahami terorisme secara mendalam jauh lebih berbahaya karena tidak menyentuh akar persoalan.
Tujuan teror adalah agar semua orang merasakan kekerasan. Namun, tujuan utama teror adalah sampainya pesan politik dari kekerasan itu. Dalam perspektif ini, kekerasan bisa diartikan sebagai media komunikasi simbolik. Pertanyaannya, maukah negara memahami pesan simbolik itu?
| < Prev | Next > |
|---|
Berita ringan |












