Form Pengguna



Orientalis & Diabolisme Pemikiran

Penilaian User: / 2
TerburukTerbaik 

Sumber : Majalah Tabligh / April 2008  Resentor : Henry Shalahuddin

Perseturuan antara haq dan batil akan senantiasa wujud dan terus berlanjut hingga datangnya kiamat. Dalam Maqalat Al-Islamiyyin, Imam Al-Asy’ari menguraikan bermacam-macam aliran sempalan yang menjamur dalam tubuh umat Islam. Bahkan dari setiap aliran muncul lagi pecahan sekte-sekte kecil. Aliran syi’ah saat itu terpecah hingga 39 kelompok, zaidiyah 6 kelompok, Khawarij 35 kelompok. Murji’ah 20 kelompok, Jahamiyah, dsb.


Aliran-Aliran itu tidak lenyap dengan sendirinya. Kegigihan dan ketulusan para ulama yang membuat aliran-aliran tersebut berguguran, kehilangan pengikut, atau paling tidak menjadi aliran minoritas di tubuh islam saat ini. Kegigihan membina umat dilakukan dengan menghidupkan tradisi ilmu-ilmu keagamaan serta menjelaskan sisi kesesatan sebuah aliran.


Imam Al-Asy’ari ( 874 – 936 M ) sendiri pada mulanya adalah tokoh Mu’tazilah ternama dan tumbuh dewasa dalam lingkungan Mu’tazilah selama 40 tahun dibawah binaan pemuda Mu’tazilah Basra yang sekaligus menjadi ayah tirinya, Abu Ali al-Juba’i. Setelah bertaubat di masjid jami al-Basrah  dan meninggalkan Mu’tazilah, beliau mulai menulis buku yang mempertahankan akidah salafus salih dengan metodologi rasional dan kritis, Dalam maqalatnya, ia mengkaji sekitar 912 permasalahan dengan tinjauan Ahlussunnah dan berlandaskan Al-Qur’an  dan as-sunnah.


Kemudian tampil Al-Baqillani ( w.1013 M ) yang bermazhab Maliki meneruskan perjuangan Imam Al-Asy’ari. Beliau dikenal pembela Islam dari rongrongan aliran Rafidhah, Mu’tazilah, Khawarij, Jahamiyah, dan Karamiyah. Oleh sebab itu ia dijuluki lisanul Ummah ( juru bicara ummat ) dan saifus sunnah  ( pembela ajaran nabi ). Pembelaan terhadap Islam tidak saja melalui lisan, tapi juga tulisan. Dikisahkan beliau menulis 35 lebar tulisan setiap malamnya. Bahkan Ali ibn Muhamad al-Harbi menuturkan : “ semua yang disebutkan Al-Baqillani tentang kontroversi pemikiran antar aliran, direkam dalam hafalannya. Tidak ada karya dari seorangpun  yang membahas pemikiran aliran-aliran, kecuali masih perlu merujuk ulang buku-buku aliran yang dibahas, karena kurang lengkapnya data yang disajikan oleh penulisnya. Namun karya al-Baqillani adalah pengecualian “. Beliau meninggalkan karya tidak kurang dari 52 buku, namun sebagian besarnya tidak sampai pada kita.


Kemudian muncul Imam Al-Ghazali ( 1058 – 1111 M ) dengan multi kepakaran. Sebutan yang senantiasa melekat padanya adalah Hujjatul Islam ( pembela Islam ). Karya – karyanya mencakup berbagai bidang disiplin ilmu keagamaan. Beliau menulis lebih dari 7 kitab di bidang fiqh; 4 kitab dalam usul fiqh, diantaranya Al-Mustasfa min ‘llm Al-Usul  yang menjadi salah satu dari tiga rujukan utama dalam Usul fiqh hingga sekarang. Beliau juga meninggalkan lebih dari tujuh kitab dalam ilmu Mantiq; di bidang Akidah, Kalam, dan filsafat ia menulis sekitar tujuh kitab; sedangkan dalam ilmu Tasawuf dan ilmu Akhlak, ia menulis lebih dari sepuluh kitab. Diantara karyanya yang paling fenomenal sepanjang sejarah adalah ihya ‘ulumidin yang menggabungkan antara riqih, tasawuf, dan filsafat. Kepiawannya dalam berbagai disiplin ilmu, membuatnya dikenal sebagai mujaddid abad 5 H.
Mungkin pembuka ulasan buku Dr. Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme pemikiran ini terkesan berlebihan. Tentunya Syamsuddin belum seberapanya dibanding Imam Al-Asy’ari, Al-Qadhi, Al-Baqillani maupun Imam Al-Ghazali. Sebab, baik dari sisi kedalaman ‚ulumuddin maupun jumlah karya yang dihasillkan, masih jauh terpaut. Namun, semangat membela yang haq dan menguak kebatilan secara sistematis, ilmiah dan bermartabat adalah tradisi para begawan ulama sepanjang sejarah Islam yang hendak diteladani Syamsuddin dalam bukunya ini.


Kehadiran buku Syamsuddin ini ibarat secercah cahaya di belantara kegelapan dan carut marutnya tradisi keilmuan di Indonesia. Ditengah westernisasi ilmu-ilmu keislaman dan kampanye pembaratan wacana, buku Syamsuddin ini merupakan di antara  buku-buku langka yang membangkitkan kesadaran kita. Meskipun sebagian buku ini pada awalnya adalah kumpulan artikel-artikelnya yang berserakan di berbagai media massa, tapi buku ini mampu menjelaskan apa yang menjadi masalah umat dan apa yang hanya ditampilkan seolah-olah ia adalah masalah umat, sedangkan sebenarnya ia adalah masalah bangsa atau agama lain. Disamping itu, ia juga menjelaskan kedudukan antara khazanah Islam dan peradaban Barat, dan menguraikan berbagai problema pemikiran yang melanda umat dewasa ini. Sehingga menjadi jelas apakah suatu masalah itu murni terlahir dari internal umat ataukah ia muncul karena pengaruh asing; dan di sisi lain menjadi penjelas mana saja masalah yang pokok dan mana yang sampingan bagi umat.
Dengan sangat kritis dan objektif, Syamsuddin menjelaskan berbagai kemelut pemikiran dan aneka syubhat yang berpangkal dari orientalis tentang teks Al-Qur’an, kedudukan Hadits, permasalahan teologi dan sufisme. Kemudian dilanjutkan uraian tentang tantangan ideologi global bagi kaum muslimin, seperti liberalisme, pluralisme agama, sekulerisme, feminisme, dan pembahasan berbagai contoh pemikiran Islam kontemporer yang terkontaminasi dengan wacana barat. Tidak sekedar negasi ( nafy ), buku ini juga menjelaskan keagungan khazanah Islam di bidang epistomologi ( nazariyatul ma’rifah ), metodologi, sains, sosiologi, dan konsep-konsep dasar lainnya. Sikap kritis dan objektif saat membedah suatu aliran ideologi, harus diawali dengan pengetahuan memadai tentang ideologi tersebut melalui penelaahan langsung dari penuturnya. “ membedah pemikiran seseorang, layaknya seorang dokter membadah mayat. Kita harus memperlakukannya sama. Apakah itu mayat orang mukmin atau mayat si kafir“. Ujar Syamsuddin beberapa waktu lalu pada saya.


Pengalaman Syamsuddin belajar di barat pada orientalis membuat bobot kritik dalam bukunya semakin tajam dan ilmiah di satu sisi lain membuatnya seperti ikan laut yang tidak turut asin. “ Ikan “ dari frankfrut yang ini sungguh berbeda dengan lusinan “ikan – Ikan asin “ dari Mc Gill, Chicago, Colombia, Ohio, Leiden, dst.


Kata “ diabolisme“ yang diangkat sebagai judul buku tentunya bukan tanpa maksud. Diabolisme berarti worhip of the devil atau iblis dalam bahasa yunani kuno, dan bisa juga diartikan sebagai perilaku dan pola pikir yang menitu iblis. Mungkin Syamsuddin bermaksud menyampaikan sindiran pedas bagi para tekstualis pemuja barat yang denga kaca mata kudanya menyuarakan paham-paham barat secara latah, tanpa melihat muatan nilai dan konteksnya. Dalam tradisi jawa, diabolisme tidak berbeda dengan paham Dobolisme yang mengacu bahwa semua tindakan yang mengalir begitu saja tanpa kendali, filter dan pertimbangan  ( latahisme ). Dobolisme tidak saja terjadi di Indonesia, bahkan seruan untuk meniru barat termsuk tata cara beragama, juga dilakukan Taha Husein ( 1889 – 1976 ), sastrawan mesir.“ Kita harus meniru dan mengikuti orang-orang eropa, dalam sisi baik dan buruknya, manis dan pahitnya, yang disukai darinya maupun  yang dibenci darinya, sehingga kita dapat sejajar dengan mereka dalam peradaban“, ujarnya. ( Mustaqbal al-Tsaqafah fi mishra, 1982:54). Kemajuan teknologi selalu menjadi alasan untuk meniru barat dalam segala hal, tapi tidaklah hasil foto copyan itu tidak pernah sebagus aslinya? Wallahu a’lam wa ahkam bi al-shawab. (www.gemainsani.co.id)

 

Terdahulu

Berita ringan

Statistik
043899
Hari IniHari Ini57
KemarinKemarin104
Minggu IniMinggu Ini234
Bulan KemarinBulan Kemarin662
TotalTotal43899
Pengunjung
Ada 2 tamu online
Media Komunikasi