Perang Manusia Pengabdi
Selamat datang, Dunia Ego,
Selamat datang, Perisai,
Selamat datang, Pedang,
Selamat datang, Genderang Perang,
Selamat datang, Topan,
Selamat datang, Kepulan Debu,
Selamat datang, Prahara,
Selamat datang, Pahlawan dan Pecundang,
Manusia pengabdi menghitung waktu, menanti bumi merekah, dan langit terbelah. Manusia pengabdi menunggu angin menggulung dan debu berhambur, hingga gelap berkuasa dan segalanya terhijab dari pandang mata. Perang antar manusia pengabdi pernah nampak di depan mata. Tapi manusia tak takut itu berulang, karena ambisi lebih tinggi nilainya daripada perdamaian. Perang demi perang telah pecah di muka bumi manusia pengabdi berkali –kali. Menelan korban jiwa, harta benda, dan ia selalu terulang kembali. Namun sesungguhnya, perang-perang itu barulah sepotong babak dari tragedi panjang kemelut manusia pengabdi. Sedangkan peperangan maha dahsyat adalah peperangan abadi. Sejak dulu sudah mulai. Dan tak ada habis-habisnya. Perang yang tiada terhingga adalah perang di dalam dada manusia. Ialah perang dari segala pertikaian. Peperangan yang tidak mengepulkan debu, tanpa pedang beradu, tanpa genderang berlalu. Perang di dalam dada manusia adalah perang melawan dirinya sendiri. Perang itu adalah cengkeram dan bungkam tatkala hatinya hiruk pikuk hendak meneriakkan kebenaran.
| < Prev |
|---|
Berita ringan |












