Form Pengguna



Perayaan Tahun Baru Di Ponorogo

Penilaian User: / 1
TerburukTerbaik 

(Sebuah usaha re-interpretasi kritis terhadap tren life style bagi remaja)
Perayaan pergantian tahun di Ponorogo semakin tidak jelas arah, visi dan misinya. Setiap malam 1 Januari tepat pada pergantian dari 31 Desember menuju 1 Januari, aloon-aloon kota Ponorogo dan jalan-jalan di sekitarnya penuh sesak dengan  kendaraan bermotor. Berjubel mobil-mobil berisi bapak, ibu dan anak-anak yang dengan riang meniupkan terompet dan dari dalam mobil juga terdengar musik yang hangar bingar. Sekumpulan lelaki membawa bendera (yang jelas bukan bendera Merah Putih) berjoget dengan iringan musik dangdut koplo.

Deretan panjang ribuan sepeda motor dengan suara knalpot yang memekakkan. Jika ditanya, kenapa mereka melakukan itu? Nampaknya, jawaban yang akan keluar adalah mereka juga tidak tahu kenapa mereka rela bermalam-malam menaiki sepeda motor sambil meneriakkan yel-yel dan menekan klakson sepeda motor sekeras-kerasnya. Yang jelas, yang menjadi motif utama dari aktifitas mereka adalah pergantian tahun. Malam itu, warga masyarakat Ponorogo dan sekitarnya, tidak ketinggalan dengan masyarakat Tokyo, Beijing, Taipei, Sydney,  Wellington, Mosko, Washington, Tel Aviv, Cairo, Paris, London, Madrid, Lisabon, Roma, Helsinki dan ratusan kota di belahan dunia lainnya. Mereka pun juga ikut bersorak. Hitungan mundur ke Tahun Baru seakan mengajak Ponorogo memasuki sebuah masa yang penuh dengan kenikmatan. Seakan-akan Ponorogo telah mendapatkan sebuah kesuksesan besar yang pantas untuk dirayakan oleh warga masyarakat Ponorogo. Apa saja saja yang dilakukan pada peringatan malam Tahun Baru, seakan-akan menjadi  sah wajar, lumrah, legal dan nggak apa-apa. Bagi yang bermobil, tidak perlu repot-repot dengan sabuk pengaman. Tak usah takut berboncengan bertiga meskipun tanpa helm di kepala. Sementara di pinggiran kota, adu kecepatan sepeda motor pun tidak ketinggalan untuk memeriahkan Tahun Baru. Pojok-pojok remang kota dihiasi dengan botol-botol minuman bernuansa dan syarat alkohol. Suara renyah para ABG pun tidak ketinggalan pula menghiasi perjalanan pergantian malam tahun baru. 
Suasana semacam itu pada setiap malam Tahun Baru terasa wajar-wajar saja. Karena, seakan warga merasa dan beranggapan bahwa Tahun Baru adalah sebuah momen kemenangan dan keberhasilan yang  pantas dan wajar untuk dipestakan. Seakan-akan semua pihak sudah sepakat bahwa Tahun Baru adalah harus dipestakan dengan pesta pora.
Cuma, yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah yang namanya malam Tahun Baru itu harus kita tandai dengan kendaraan bermotor sementara hal itu sangat mengganggu warga lain yang sedang sakit di rumah sakit? Apakah pergantian Tahun Baru memang harus dirayakan dengan tiupan terompet? Atau malam Tahun Baru diperingati dengan bentuk hura-hura yang kadang merenggut nyawa? Apakah memang Tahun Baru harus ditandai dengan pesta yang kadang melampaui batas-batas aturan sosial, moralitas agama, etika lingkungan dan kemasyarakatan serta tradisi ketimuran Ponorogo? Apakah memang peringatan atau kontemplasi tentang  arti dan makna pergantian tahun harus diberikan momentum khusus yang dihiasi dengan sorak, bunyi terompet yang melengking, klakson yang riuh, teriakan yang hebat, tarian mengumbar nafsu, dan berbagai macam hal yang memang bukan tradisi kita?
Wallohu a’lamu bisshowab.


 

Terdahulu

Berita ringan

Statistik
043899
Hari IniHari Ini57
KemarinKemarin104
Minggu IniMinggu Ini234
Bulan KemarinBulan Kemarin662
TotalTotal43899
Pengunjung
Ada 2 tamu online
Media Komunikasi