Form Pengguna



Sanggupkah

Penilaian User: / 4
TerburukTerbaik 

Surau terlihat sepi setelah usai sholat Isya’. Malam itu sunyi senyap. Tak banyak aktivitas yang dilakukan penduduk kampung Praja pada malam hari. Delia gelisah menunggu datangnya esok hari, hari yang menyakitkan baginya. Namun ini adalah pengorbanan untuk cintanya.

Delia duduk di atas kursi roda sambil memandang indahnya rembulan dari sela-sela tirai jendela kamarnya. Sejak kecelakaan itu, kaki Delia tak mampu untuk berjalan normal karena harus diamputasi.  Tepatnya  lima bulan  setelah pernikahannya.  Ia pun merasakan kesepian, kesendirian serta hari-harinya suram setelah kejadian itu.

Delia menikah pada usia yang dapat dikatakan belia. Ketika ia berumur 10 tahun ayah dan ibunya meninggal akibat gempa bumi. Ia dirawat oleh pamannya di Sumedang dan akhirnya dinikahkan dengan keponakan dari bibi. Usai kelulusan dari ma’had ar Rahman (ma’had: pondok; bhs Arab) setara dengan kelas XII, ia dinikahkan dengan Farhan alumni MAN 1 Sumedang.

Dengan selisih usia yang hanya sekitar 2 bulan, membuat rumah tangga mereka pun sering terjadi pertengkaran. Kadang menu masakan yang tidak cocok, keegoisan, perbedaan prinsip karena jiwa muda mereka serta kadang akibat SMS atau telp dari teman-teman sekolah yang membuat cemburu.

Suatu ketika Farhan marah, karena  Delia  memaksa ingin ke ma’had. Ia mendapat SMS amanat dari ust Azmi untuk datang ke ma’had malam itu juga karena ada hal penting yang harus diselesaikan. Namun Farhan tidak megizinkan melihat situasi sedang hujan rintik. Delia tetap memaksa karena ia merasa mendapat amanat serta sebagai rasa tanggung jawabnya kepada ma’had. Keduanya saling berdebat. Akhirnya dengan setengah hati dan sedikit kesal Farhan tidak tega melihat istrinya pergi sendirian. Sesampainya di persimpangan jalan sebelum masuk gang ke tempat yang di tuju, dari arah berlawanan sebuah truk Gandeng melaju dengan kecepatan tinggi.

Bbbbrrrruuuuaaaaakkkk!!!!!!!!!!

?????????????????????????????????????????????????????????????????

Beberapa menit setelah itu mereka telah berada di rumah sakit. Farhan mengalami luka pada tangan dan keningnya, sedangkan Delia harus kehilangan kaki kesayangannya karena terpaksa diamputasi.

Sejak kecelakaan itu, ia tidak lagi mengabdikan diri di ma’had ar Rahman dimana pertama kali ia mengenal bahasa Arab serta tafsir-tafsir Qur’an. Ia merasa minder dan menghabiskan waktunya untuk tilawah quran dan membaca buku-buku di kamar. Sesekali santri dan ustd datang berkunjung.

Suatu malam Delia mencoba memulai pembicaraan dengan suaminya.

“Mas…Adik akui, adik sayang banget sama Mas. Tapi Adik sadar tidak bisa membuat Mas bahagia... Dari awal pernikahan kita, entah berapa kali Adik membuat marah Mas dengan segala kekurangan Adik. Mas…adik berat untuk membagi Mas dengan orang lain. Tapi demi kebahagiaan Mas, Adik rela berkorban untuk Mas menikah lagi.”

“ Maksud Adik? Poligami?”

“Dari dulu tidak pernah terlintas di pikiran Adik untuk memiliki suami yang berpoligami, Adik tidak sanggup. Tapi sedih hati seorang istri yang tidak bisa membahagiakan suaminya. Bahkan sekedar mencucikan baju Mas saja, Adik tidak bisa…” Delia menitikkan air mata.

“Sudahlah Dik, tidak usah difikirkan. Mas tidak setuju dengan usulan Adik. Biarlah Adik tetap jadi istri satu-satunya bagi Mas.”

***

Pagi itu terlihat cerah, mentari dengan bangga menebarkan tasbih-tasbih melalui sinarnya ke seluruh jagad raya. Burung pun menyambut dengan pujian syukurnya. Dedaunan serta angin yang berhembuspun tak mau kalah dengan dzikir-dzikirnya

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam…” Delia membukakan pintu tamu pertamanya di pagi itu.

“Apa benar ini rumah akhi Farhan?” Tanya seorang akhwat berjilbab lebar dengan sebuah bingkisan di tangannya.

“Ia benar…Silahkan masuk.”

“Ukhti siapa? (ukhti: saudari; bhs Arab) Dari mana?”

“ Saya Laila teman akhi Farhan waktu di MAN 1 dulu. Namun setelah lulus Ana (Ana: saya; bhs Arab) melanjutkan ke Pondok Tahfidzul Qur’an di Jawa Timur. Maksud kedatangan Ana ke sini untuk mengantarkan bingkisan ini buat akhi Farhan.”

“Apa itu Ukh…?”

“Ini bingkisan dari teman-teman alumni buat ketua Alumni, akhi Farhan.”

“Assalamu’alaikum…” Farhan turun dari lantai 2 mendekati istrinya dan hendak ke kantor.

“Wa’laikum salam…”

“Mas, ini ada ukhti Laila mencari Mas. Adik ke belakang dulu ya…”

“Laila???” Farhan mengerutkan kening. “ Laila dari Bandung?”

“Iya Akhi…alhamdulilah Akhi masih ingat mai (mai: denganku; bhs Arab). Ana kesini  diminta teman-teman untuk mengantarkan bingkisan ini karena rumah kita lumayan dekat.”

Obrolan panjang antara Laila dan Farhan menceritakan tentang pengalaman serta mengenang masa lalu. Di ujung dapur Delia memerhatikan keakraban keduanya. Ada rasa cemburu, namun buru-buru Delia menghilangkannya karena ia tidak mau suudzon (suudzon: berprasangka buruk; bhs Arab) Karena itu hanya akan menyiksa batinnya saja.

Beberapa hari setelah kedatangan Laila, Delia sering melihat SMS-SMS Laila masuk untuk Farhan walau sekedar tanya kabar. Ingin hati meronta, marah, cemburu, tapi apalah daya. Hanya dzikir-dzikir panjang penentram jiwa yang gundah.

Sejak hadirnya Laila, Delia merasa Farhan mulai berubah. Ia merasa perhatian Farhan berkurang.

 

Ya Allah kalau memang ini takdirMu...Aku rela…

Ya Allah kalau ini memang terbaik untuk suamiku…Aku ikhlas.…

Ya Allah kalau aku harus membagi suamiku…sanggupkah Aku...

Ya Allah lemahnya diri ini dalam cobaanMu…ampunilah Aku...

Ya Allah berikan jalan terbaik untuk hidupku…Aku serahkan semua padaMu…

 

Delia kembali meminta Farhan untuk mencari kebahagiaannya dengan menikah dengan Laila. Akhirnya Farhanpun dengan berat hati mengikuti saran istrinya.

****

Inilah malam terberat bagi Delia. Ia tidak ingin malam ini cepat berlalu, karena besok pagi adalah hari pernikahan suaminya. Ia pandangi wajah suaminya yang sedang terlelap dengan air mata yang enggan tuk berhenti menetes.

Pagi itu semua orang sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk penikahan Farhan dan Laila. Penghulupun telah tiba.

“Dik…tuluskah Adik mencintai Mas?” Farhan memegang tangan istrinya mesra.

“Iya Mas…”

“Sanggupkah Adik membagi cinta kita?”

“Iya Mas…” Dengan tetesan air mata Delia mencoba tuk meyakinkan suaminya. Namun ketika kedua mempelai telah duduk bersanding untuk melangsungkan ijab qobul depan penghulu, Delia tidak sanggup harus mendengar dan melihat sesi setelahnya. Ia meninggalkan tempat itu. Ia hanya ingin membuat yang dicintainya bahagia. Mungkin inilah jalan yang diberikan Allah.

Sekitar 30 menit setelah itu, orang-orang berhamburan keluar. Delia hanya menatap dari balik jendela. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah inikah takdirMu? Aku berlindung padaMu ya Allah…kuatkan hatiku…”

Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan, Delia tidak melihat siapa yang masuk, ia tetap menghadap pada jendela. Farhan dan Laila masuk dan mendekat.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam…” Delia mengusap air matanya dan berbalik. “ Selamat ya…Semoga kalian sakinah mawadah wa rahmah.”

“Ukhti…seharusnya Ana yang ucapkan selamat buat ukhti”

(selamat kehilangan suami??? Dalam hati Delia, perih…)

“Ukhti seharusnya bangga memiliki suami seperti Mas Farhan.”

(ia…tapi kini aku harus berbagi dengan mu ukhti…sanggupkah aku? Ya Allah berikan aku kekuatan dan kesabaran…) hati Delia terus berdzikir tanpa henti.

“Ukhti… Mas Farhan tetap milik ukhti, kita tidak jadi menikah.”

“Maksud Ukh?”

“Dik…Mas gak bisa mengucapkan kalimat itu untuk kedua kalinya. Mas tidak kuasa melihat tetesan air mata Adik. Aku tahu Adik bahagia jika Mas bahagia, dengan mengorbankan perasaan Adik untuk kebahagiaan Mas. Itulah cinta sejati, rela berkorban tanpa  meminta balasan. Batukah hati Mas yang tidak mau berkorban untuk Adik tercinta? Janji kita telah disaksikan Allah. Mas nggak bisa Dik…tak kuasa melihat adik berkorban seorang diri.”

“Tapi adik ikhlas Mas…”

“Iya…Mas tahu, karena Adik terlalu sayang sama Mas.Tapi Mas tahu hati kecil Adik tidak akan rela. Seandainya waktu berbalik, Mas yang mengalami ini semua apakah Adik akan meniggalkan Mas dan menikah lagi?”

“Enggak Mas…akan selalu menemani Mas dalam suka dan duka.”

“Mas tidak ingin Adik menjadi sebuah lilin yang mengorbankan dirinya untuk menerangi orang lain…Tapi Mas ingin Adik seperti mentari yang selalu bersinar setiap hari tanpa lelah tanpa harus mengorbankan diri sendiri, tetap kokoh menjulang tinggi dan bersahaja.”

  • Sanggupkah Ikhwan Akhwat seperti itu dalam cobaan?????????????
  • Segala permasalahan pasti ada jalan keluar…Inna Allaha ma’anaa…
  • Seandainya engkau diberi pilihan, pilihlah seseorang karena agamanya.

 

By: Nick_Ch_26 (Nanik Sri Wahyuni)

 

Terdahulu

Berita ringan

Statistik
043889
Hari IniHari Ini47
KemarinKemarin104
Minggu IniMinggu Ini224
Bulan KemarinBulan Kemarin652
TotalTotal43889
Pengunjung
Ada 2 tamu online
Media Komunikasi