Keadilan Tuhan
Gempa dan gelombang pasang pantai Pangandaran Ciamis Jawa Barat. Banjir, gunung meletus, dan rentetan musibah lainnya. Bukankah setiap hari sebagian besar penduduknya sudah menjalankan ibadah sholat? Bukankah setiap Jum’at sebagian besar penduduknya menunaikan sholat di hari Sayyidul Ayyaam? Bukankah setiap tahun sebagian besar penduduknya menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh? Bukankah setiap bulan Dzulhijjah ratusan ribu penduduknya melaksanakan ibadah haji di Baitullah? Bukankah dan ribuan bukankah yang lainnya............?
Kenapa bencana itu tidak melanda salah satu pantai Amerika sebagai balasan atas sikap politik belah bambu Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah? Kenapa gempa itu tidak melanda Inggris sebagai balasan atas sikap Inggris yang tidak fair dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel? Kenapa dan kenapa yang lainnya............?
BUKANKAH dan KENAPA yang tidak terbatas jumlahnya itu sangat riskan untuk kita munculkan di benak kita dan kita pertanyakan kepada diri kita sendiri apalagi kita munculkan ke khalayak ramai walaupun terus menggerayangi pikiran kita. Dari sekian alasan keriskanan kita adalah bahwa dalam teks-teks keagamaan kita mendapatkan dengan sangat gamblang dan jelas bahwa Allah Maha Adil, Allah Maha Sempurna dan Maha-Maha yang lainnya. Tulisan ini bukanlah merupakan pencarian teori dan konsep ideal (maani’ jaami’) tentang keadilan Tuhan, akan tetapi hanyalah merupakan sebuah kontemplasi konsep keadilan Tuhan yang termaktubkan dalam teks-teks agama (baca: Kitab Suci) dikaitkan dengan kenyataan dari berbagai permasalahan kehidupan baik kehidupan pribadi, keluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sebelum kita jauh-jauh mengarungi dalamnya teori dan konsep keadilan Allah dalam kehidupan manusia ini, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk kembali diam, merenung serta menghayati dengan hati dan pikiran jernih hakekat diri kita.
Kenapa demikian?
Untuk menjawabnya, mari kita merenung. Pertama: Pernahkan kita berpikir asal muasal manusia, hewan, dan makhluk lainnya? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa manusia pertama adalah berasal dari kera? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa bumi adalah berasal dari The Big Bang? Kedua: Bila jawabannya menemui jalan buntu (deadlock), maka jawaban akhirnya adalah sangatlah tidak masuk akal kalau manusia, hewan, dan makhluk lainnya merupakan hasil sebuah proses alam yang mengalir begitu saja tanpa ada kendali karena di dalam diri manusia, di dalam tubuh hewan dan di dalam dzat makhluk lainnya ada sebuah ciptaan yang tidak dapat dijawab oleh kecanggihan ilmu pengetahuan. Ketiga: Kalau demikian, siapa yang menciptakan? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa manusialah yang menciptakan manusia? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa bumi diciptakan oleh Teori Dentuman Besar? Keempat: Dari mata rantai pertanyaan, muncul pertanyaan, mengapa dan untuk apa manusia, hewan, dan makhluk lainnya diciptakan? Adakah pikiran yang mengatakan manusia diciptakan untuk membunuh manusia lainnya? Adakah pikiran yang mengatakan manusia diciptakan untuk menyakiti yang lainnya?
Dapat kita tarik sebuah benang merah dari rentetan keempat pertanyaan di atas bahwa seluruh wujud yang ada di jagad raya ini pasti ada penyebabnya. Wujud itu tersebut sangat mustahil apabila keberadaannya tanpa penyebab. Mata rantai penyebab ini akan berakhir kepada sebuah Dzat Yang Maha di luar kemampuan manusia. Termasuk kita. Kita adalah ciptaan Allah yang hal ini sudah difirmankan oleh Allah dalam Kitab Suci-Nya dengan sangat jelas dan gamblang. Akan tetapi, entah kenapa, kita sering lupa atau sengaja melupakan posisi itu. Kita sering alpa atau mengalpakan hal itu. Tidak ingatkah bahwa kita sering tidak konsisten dengan apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang oleh-Nya? Tidak ingatkah bahwa kita sering tidak istiqomah untuk selalu mengatakan “ya” kepada segala macam bentuk kebaikan? Tidak ingatkah bahwa kita sering “plin plan” untuk mengatakan “tidak” kepada segala macam bentuk kemungkaran? Sudahkah jabatan yang kita duduki, tidak kita gunakan untuk menyakiti makhluk-makhluk-Nya? Sudahkah harta yang kita miliki, kita gunakan untuk penghambaan diri pada-Nya? Sudahkah kita mendahulukan kewajiban kita sebelum menuntut hak kita kepada tetangga?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang nampaknya cukup menjadi bahan renungan, kenapa musibah, bencana dan malapetaka sering terjadi di sekitar kita sampai seakan-akan kita kekeringan air mata untuk menangisi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Mungkin, melalui musibah itu Allah mengingatkan bahwa kita ini adalah ciptaan-Nya yang diciptakan untuk menghambakan diri hanya kepada-Nya. Bukankah Allah telah berfirman demikian? Barangkali, dengan bencana itu Allah menegur bahwa Allah akan menambah nikmat apabila kita pandai bersyukur kepada-Nya dan sebaliknya, Allah akan murka, kalau kita kufur akan karunia-Nya. Bukankah Allah juga telah berfirman demikian? Doa kita, semoga Allah selalu memberikan peringatan, ketika kita lupa kepada-Nya dan semoga Allah tidak murka seperti apa yang terjadi pada kaum-kaum terdahulu. Amin. Wallahu a’alamu bisshowab.
Kenapa bencana itu tidak melanda salah satu pantai Amerika sebagai balasan atas sikap politik belah bambu Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah? Kenapa gempa itu tidak melanda Inggris sebagai balasan atas sikap Inggris yang tidak fair dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel? Kenapa dan kenapa yang lainnya............?
BUKANKAH dan KENAPA yang tidak terbatas jumlahnya itu sangat riskan untuk kita munculkan di benak kita dan kita pertanyakan kepada diri kita sendiri apalagi kita munculkan ke khalayak ramai walaupun terus menggerayangi pikiran kita. Dari sekian alasan keriskanan kita adalah bahwa dalam teks-teks keagamaan kita mendapatkan dengan sangat gamblang dan jelas bahwa Allah Maha Adil, Allah Maha Sempurna dan Maha-Maha yang lainnya. Tulisan ini bukanlah merupakan pencarian teori dan konsep ideal (maani’ jaami’) tentang keadilan Tuhan, akan tetapi hanyalah merupakan sebuah kontemplasi konsep keadilan Tuhan yang termaktubkan dalam teks-teks agama (baca: Kitab Suci) dikaitkan dengan kenyataan dari berbagai permasalahan kehidupan baik kehidupan pribadi, keluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sebelum kita jauh-jauh mengarungi dalamnya teori dan konsep keadilan Allah dalam kehidupan manusia ini, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk kembali diam, merenung serta menghayati dengan hati dan pikiran jernih hakekat diri kita.
Kenapa demikian?
Untuk menjawabnya, mari kita merenung. Pertama: Pernahkan kita berpikir asal muasal manusia, hewan, dan makhluk lainnya? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa manusia pertama adalah berasal dari kera? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa bumi adalah berasal dari The Big Bang? Kedua: Bila jawabannya menemui jalan buntu (deadlock), maka jawaban akhirnya adalah sangatlah tidak masuk akal kalau manusia, hewan, dan makhluk lainnya merupakan hasil sebuah proses alam yang mengalir begitu saja tanpa ada kendali karena di dalam diri manusia, di dalam tubuh hewan dan di dalam dzat makhluk lainnya ada sebuah ciptaan yang tidak dapat dijawab oleh kecanggihan ilmu pengetahuan. Ketiga: Kalau demikian, siapa yang menciptakan? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa manusialah yang menciptakan manusia? Adakah pikiran yang mengatakan bahwa bumi diciptakan oleh Teori Dentuman Besar? Keempat: Dari mata rantai pertanyaan, muncul pertanyaan, mengapa dan untuk apa manusia, hewan, dan makhluk lainnya diciptakan? Adakah pikiran yang mengatakan manusia diciptakan untuk membunuh manusia lainnya? Adakah pikiran yang mengatakan manusia diciptakan untuk menyakiti yang lainnya?
Dapat kita tarik sebuah benang merah dari rentetan keempat pertanyaan di atas bahwa seluruh wujud yang ada di jagad raya ini pasti ada penyebabnya. Wujud itu tersebut sangat mustahil apabila keberadaannya tanpa penyebab. Mata rantai penyebab ini akan berakhir kepada sebuah Dzat Yang Maha di luar kemampuan manusia. Termasuk kita. Kita adalah ciptaan Allah yang hal ini sudah difirmankan oleh Allah dalam Kitab Suci-Nya dengan sangat jelas dan gamblang. Akan tetapi, entah kenapa, kita sering lupa atau sengaja melupakan posisi itu. Kita sering alpa atau mengalpakan hal itu. Tidak ingatkah bahwa kita sering tidak konsisten dengan apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang oleh-Nya? Tidak ingatkah bahwa kita sering tidak istiqomah untuk selalu mengatakan “ya” kepada segala macam bentuk kebaikan? Tidak ingatkah bahwa kita sering “plin plan” untuk mengatakan “tidak” kepada segala macam bentuk kemungkaran? Sudahkah jabatan yang kita duduki, tidak kita gunakan untuk menyakiti makhluk-makhluk-Nya? Sudahkah harta yang kita miliki, kita gunakan untuk penghambaan diri pada-Nya? Sudahkah kita mendahulukan kewajiban kita sebelum menuntut hak kita kepada tetangga?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang nampaknya cukup menjadi bahan renungan, kenapa musibah, bencana dan malapetaka sering terjadi di sekitar kita sampai seakan-akan kita kekeringan air mata untuk menangisi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Mungkin, melalui musibah itu Allah mengingatkan bahwa kita ini adalah ciptaan-Nya yang diciptakan untuk menghambakan diri hanya kepada-Nya. Bukankah Allah telah berfirman demikian? Barangkali, dengan bencana itu Allah menegur bahwa Allah akan menambah nikmat apabila kita pandai bersyukur kepada-Nya dan sebaliknya, Allah akan murka, kalau kita kufur akan karunia-Nya. Bukankah Allah juga telah berfirman demikian? Doa kita, semoga Allah selalu memberikan peringatan, ketika kita lupa kepada-Nya dan semoga Allah tidak murka seperti apa yang terjadi pada kaum-kaum terdahulu. Amin. Wallahu a’alamu bisshowab.
| < Prev | Next > |
|---|
Berita ringan |












