Tukang Kebun dan Akar Pohon
Sebuah kisah dari negeri antah berantah tentang seorang tukang kebun yang memiliki berbagai macam tanaman yang ditanamnya dikebun nan subur. Suatu hari eseorang memberikan sebuah tunas pohon kepadanya. Entah bakal calon pohon apa tunas ini kelak. Sepintas diperhatikannya tunas ini dengan seksama, diperhatikannya detail daunnya. Namun dengan berpikir positif dan tanpa keraguan sedikitpun, serta semangat juang yang tinggi, tukang kebun itu langsung mencari lahan yang subur jauh dari polusi. Ia hanya berharap “semoga tunas ini tumbuh dan menjadi berguna bagi orang lain setelahnya”.
Tukang kebun lantas menggali lubang yang sangat dalam untuk membenamkan akar tunas pohon tersebut. Akar itu ia tanam hanya dengan satu ucapan “ senoga akar pohon ini dapat mengakar dan mencengkeram bumi dengan kokoh”.
Akar ditanam, dipupuk, dirawat dan diperhatikan setiap hari. Tunas itupun tumbuh menjadi pohon kecil yang elok. Walau masih terbilang muda, pohon itu sudah terlihat kuat dan kokoh.
Hari berganti, bulan berlalu, tahunpun terlewati dengan rasa syukur bahwa tunas tersebut tumbuh dan berkembang kuat mengakar dibumi Allah SWT. Namun sayang……..!
Di musim kemarau panjang, lahan tersebut hangus terbakar, seluruh pohon yang ditanam tukang kebun menghitam, tak terkecuali pohon pemberian itu. Sang tukang kebun hanya bisa berdo’a dan bertawakal atas usaha yang telah ia lakukan. Tukang kebun membathin “semoga pohon-pohon yang akarnya kuat mencengkeram tanah mampu bertahan dari segala musibah dan ujian”.
Tukang kebun menyaksikan sebagian pohon-pohon yang ia perjuangkan mati oleh dahsyatnya musim kemarau, sebagian lagi layu dan hampir pula mati, yang lain sudah tidak ada sepucuk daunpun di dahannya. Tukang kebun terus bermunajat kepada Allah SWT dan berpasrah diri dari semua ujian yang menimpa.
Seiring berjalannya waktu, kemarau panjang nan gersang berlalu dan meninggalkan kehampaan serta retakan tanah dan pohon-pohon yang menghitam. Harapan tukang kebun hanyalah setetes air hujan dari langit.
Do’a dan harapan tukang kebun terkabul. Tidak berapa lama kemudian, terlihat awan hitam berarak datang dan berkumpul di atas lahan nan gersang. Setetes air jatuh dari langit yang menghitam, menjadi bulir-bulir harapan membasahi bumi Ilahi rabbi. Tetesan air hujan menjadi sebuah anugerah dan harapan baru bagi pohon-pohon tersebut. Hari itu seluruh tanah dibasahi oleh air yang turun hanya beberapa saat. Namun dahsyat……! Ini sebuah mukjizat.
Hujan turun dengan lebatnya dan tetesannya membasahi seluruh pohon-pohon dan memberi kehidupan yang baru. Namun tragis, banyak pohon-pohon yang akarnya tidak merengkuh tanah dengan kuat, tertiup angin, terhempas air, sehingga mereka tumbang dan berjatuhan. Sang tukang kebun berharap pada pohon pemberian yang akarnya kuat dan kokoh menggenggam bumi.
Dan Subhanallah, hanya dengan hujan sekali yang turun pada hari itu, pohon-pohon mengeluarkan daun baru yang begitu indah, bahkan lebih indah dari sebelumnya. Daun itu bersemi dan terus membesar memberikan kesejukan bagi siapapun yang memandangnya.
Begitulah ketabahan dan keikhlasan tukang kebun untuk merawat dan membesarkan pohon-pohon yang ditanamnya, dari sekian banyak pohon ternyata banyak juga yang mati karna akarnya tidak kuat mencengkeram bumi. tetapi ada juga pohon yang akarnya sangat kuat dan mampu bertahan dari segala ujian serta bersemi indah dengan daun-daunnya yang baru.
Sang tukang kebun mendapat pelajaran yang berharga dari ini semua, bahwa bila ia menguatkan akar setiap pohon, maka pohon tersebut akan bertahan dari segala macam ujian dan musibah serta dapat bersemi lebih indah hanya dengan sekali hujan yang turun.
Sebagai tenaga pendidik, kitapun dapat mengambil pelajaran dari kisah di atas. Kita ibaratkan diri kita sebagai tukang kebun dan para santri adalah pohon pemberian yang menjadi amanah atas diri kita, bila kita mendidik mereka dengan menguatkan akar (baca;Hati) mereka, maka merekapun akan sangat kuat menggenggam nilai-nilai pendidikan yang kita ajarkan. Baik itu nilai Agama, nilai social, nilai kepribadian, dll.
Jadi, kita sebagai tenaga pendidik harus lebih dahulu membidik hati mereka agar transferring of knowledge yang diberikan betul-betul mengakar dan diamalkan dalam hidup keseharian para santri. Tidak bermaksud mengesampingkan otak yang makanan utamanya adalah ilmu pengetahuan, namun lebih penting dari itu kita harus memberikan pemahaman tauhid dan ibadah dahulu yang itu adalah makanan utama untuk hati. Perihal
Semoga kita menjadi tenaga pendidik yang mampu memberikan nilai-nilai ibadah yang baik ke dalam hati para santri, sehingga para santri mampu menghadapi segala macam cobaan dan ujian dari Allah SWT dan mampu mengamalkan apa yang didapatkannya untuk menegakkan kalimatullah di muka bumi. Wallahu a’lam bisshowab. (NN)
| Next > |
|---|
Berita ringan |










